Tragedi Putra Mahkota Dan Misteri Kuburan Putroe Phang

Tragedi Putra Mahkota dan Misteri Kuburan Putroe Phang.

Kematian Meurah pupok merupakan salah satu Tragedi terbesar dalam Kerajaan Aceh Darusalam, saat para penasehatnya Raja Sulthan Iskandar Muda menanyakan kepada Sulthan Kenapa sampai hati memancung putranya yang sudah dipersiapkan untuk menganti posisinya kelak sebagai Sulthan Kerajaan Aceh, maka Sultan Aceh menjawab “Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita”. namun, apa sebenarnya yang terjadi sampai putra mahkotanya itu dihukum sampai mati?

Tragedi itu terjadi berawal dari laporan tentara Pedir bahwa Meurah Pupok telah berzina dengan istrinya, iya mengaku telah membunuh perempuan tersebut, iya meminta keadilan kepada Sulthan supaya Meurah Pupok di bunuh demi keadilan. Sultan Iskandar Muda menyampaikan hal tersebut kepada Qadhil Malikul Adil sebagai Ketua Mahkamah Kesulthanan Kerajaan Aceh, Namun Putri Kamaliah (Putroe Phang) bersikeras bahwa Sulthan Iskandar Muda bisa melakukan hukuman itu sendiri.

Sebelum keputusan eksekusi pancung itu dilakukan, keputusan itu telah di cegah banyak pihak termasuk panglima Wazir Mizan. Panglima Wazir Mizan telah membujuk Sulthan Iskandar Muda untuk tidak melakukan Eksekusi tersebut, tetapi Putri Kamaliah tetap bersikerah bahwa Meurah Pupok tetap harus dihukum, Sulthan Iskandar Muda tidak percaya atas tuduhan terhadap Putranya yang taat tersebut, namun karena desakan Putri Kamaliah tersebut, maka tanpa pengadilan Meurah Pupok pun dipancung di hadapan ribuan Masyarakat Banyak

Menurut catatan Sejarah, Sulthan Iskandar Muda memiliki dua istri. Putranya bernama Meurah Pupok, anak dari istrinya seorang Putri Gayo. Sang raja juga punya anak perempuan bernama Safiatuddin, anak dari istrinya yang juga seorang putri Kerajaan Pedir di kawasan Pidie, Putroe Tsani. Putroe Tsani merupakan ibunda dari Sultanah Safiatuddin yang berkuasa pada tahun 1641 – 1675, dan Putroe Phang (Kamaliah) Putri dari Negeri Pahang Malaysia

Sulthan Iskandar Muda telah membuktikan keadilan terhadap Negeri Aceh Sumatera wilayah yang membentang dari pesisir Minangkabau hingga semenanjung Malaya yang ia pimpin. Namanya terus dikenang sebagai Sulthan megah, bersyariat, dan mampu menyejahterakan rakyat Aceh.

Setelah Meurah Pupok Meninggal dunia, sehari setelahnya, Sultan Iskandar Muda Mengangkat Iskandar Sani sebagai Putra Mahkota Kerajaan Aceh. Tidak lama setelah itu Sultan Iskandar Muda pun wafat karena sakit. Menurut dugaan orang kepercayaanya Sulthan Iskandar Muda diracuni. Pihak lain berpendapat bahwa Sultan Iskandar Muda Wafat karena Penyesalan karena membunuh anaknya tanpa kesalahan, membuat iya kehilangan semangat hidup, maka lemahlah pemerintahan Kerajaan Aceh saat itu.

Pengganti Sulthan Iskandar Muda saat itu adalah Iskandar tsani Yang telah diangkat sebagai Putra Mahkota Kerajaan. Namun Ratu Safiatuddin Berfirasat atas ketidakberesan keadaan saat itu, bagaimana mungkin sebuah peristiwa begitu aneh bisa terjadi dalam waktu yang saling berdekatan, orang orang yang dia cintai meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan

Ratu Safiatuddin tidak percaya abang kesayanganya berzina , maka iya bersama pengawal kepercayaannya mencari kebenaran. Akhirnya iya menemukan kebenaran itu, bahwa abangnya Meurah Pupok telah difitnah oleh sebuah Konspirasi jahat. Lelaki yang melaporkan istrinya tersebut tewas setelah beberapa hari kemudian.

Almarhum H. Raman Kaoy semasa hidupnya yang pernah menduduki wakil Ketua I Majelis Adat Aceh, pernah berkisah dari bukti sejarah yang pernah didengar dan disampaikan oleh orang orang Pahang Malaysia yang berkunjung ke Aceh (Majelis Adat Aceh), Bercerita “bahwa konspirasi jahat tersebut melibatkan banyak pihak, termasuk Putroe phang,” bisa dikatakan dendam lama musuh Kerajaan Aceh yang berhasil di taklukkan massa Kerajaan Aceh Sulthan Iskandar Muda membuat Portugis tidak menyerah untuk mengatur siasat licik, termasuk Majapahit merupakan sebuah kemaharajaan yang yang pernah berdiri di Indonesia, sekitar tahun 1293–1527 M. Kemaharajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya menantu Kertanagara, maharaja Tumapel terakhir. Sisa sisa dari penerus kerajaan tersebut masih belum bisa menerima Kerajaan Aceh zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) berkuasa kala itu. karena Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu Buddha terbesar di Indonesia yang berdiri pada abad ke 13 hingga abad ke 16. Wilayah kekuasaan Majapahit mencapai hampir seluruh Nusantara. Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293, seorang menantu dari Kertanegara, raja terakhir Singasari.

Almarhum H. Raman Kaoy merupakan salah satu tokoh Adat Aceh, yang dilahirkan di Geulumpang Minyeuk, Kabupaten Pidie, 20 Juli 1942. Pemuda Tiro ini semasa mudanya dikenal dengan “singa podium”. Beberapa jabatan strategis diemban kala mudanya antara lain, Dekan Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Anggota MUI/MPU Aceh, Pengurus Masjid Al Makmur Lampriet, dan Wakil Ketua I Majelis Adat Aceh.

Menurut sejarawan Aceh yaitu A Rahman Kaoy, Sultan Iskandar Muda mempunya 4 orang istri,yang pertama adalah Putroe Sani anak dari Daeng Mansyur (Tgk Syik di Reubee),kedua adalah Putri Asiah dari Bireuen, ketiga adalah Putri Kamaliah dari Pahang,dan yang keempat yaitu Putri Hijau dari Gayo,beliau juga mengatakan bahwa Sultan Iskandar Muda mempunyai seorang selir dari India yaitu Putri India.

Namun apakah kebenaranya ini benar bahwa Raja Aceh Sulthan Memiliki Istri 4 tersebut, atau hanya sebuah adu domba musuh untuk memecah kekuatan Aceh kala itu, maupun menghilangkan kebenaran untuk menghancurkan Kerajaan Aceh kala itu?. Buku-buku catatan penting peninggalan Kerajaan Aceh yang tertulis dalam karya basa Jawi, lenyap bagai ditelan bumi, sebagian masih tersimpan di Broonbeek Museum Belanda, disana tersimpan lebih dari 200 naskah penting milik Kerajaan Aceh, dan lebih 500 manuskrip catatan Kerajaan Aceh hilang sampai sekarang belum juga ditemukan tanpa bekas.

Setelah Ratu Safiatuddin berhasil membongkar kebenaran tersebut, lalu iya menyampaikan kebenaran tersebut kepada Tuha Peut Kesultanan dan keseluruh Menteri Kerajaan Aceh, maka Iskandar Tsani yang merupakan anak putri Pahang (putroe Phang) dimakzulkan, karena ibunya berkomplot dengan Nuruddin Arraniry yang diduga telah melakukan penghasutan dan meracuni Sulthan Iskandar Muda.

Safiatuddin menemukan bahwa Putri Pahang dibalik Konspirasi jahat itu, karena peristiwa itulah makam putri Pahang tidak diketahui sampai saat ini. Dan Nuruddin ArRaniry melarikan diri ke negeri asalnya India, setelah kalah berdebat dengan salah satu murid Syeh Hamzah Fansuri

Putroe Phang (Kamaliah) merupakan seorang Putri Kerajaan yang dibawa dari Pahang oleh Sultan Iskandar Muda setelah penyerangannya yang kedua membasmi kerjasama Portugis dan Raja Johor yang berkhianat

Pengkhianatan Raja Johor Alauddin Kembali berkhianat ke 2 kali dengan membantu Portugis memperluas wilayah jajahan dan membantu mengangkat raja Bujang menjadi raja Pahang. Raja Bujang sebelumnya adalah seorang Pangeran Negeri Pahang yang telah bersumpah setia kepada musuh Aceh yaitu Portugis

Konspirasi Pihak Portugis untuk melemahkan pemerintahan Kesultanan Aceh, kemungkinan besar bahwa Portugis terlibat, karena Aceh ketika itu menjadi penghalang tersulit Portugis dalam melakukan aktivitas perdagangan, penjajahan dan penyebaran agama Katolik dan Kristen di tanah Melayu, setelah berkali kali kalah dengan Kerajaan Aceh yang sangat Kuat, dengan memanfaatkan kisah masa lalu negeri Pahang yang ditaklukkan Aceh dan Putri Kamaliah yang sudah memiliki pengaruh kuat di pemerintahan Kerajaan Aceh bisa dimanfaatkan untuk tujuan Konspirasi jahat tersebut. 

Sumber Berita : https://maa.acehprov.go.id/berita/kategori/putroe-phang/tragedi-putra-mahkota-dan-misteri-kuburan-putroe-phang