Tradisi Syair Do DA IDI Dalam Adat Aceh

TRADISI SYAIR DO DA IDI DALAM ADAT ACEH, PEMBENTUKAN KARAKTER SEJAK DINI

Jumat, 22 Mei 2026 Oleh Dyna Ariana, S.Pd

Putroe Phang

Masyarakat Aceh sebagai salah satu komunitas masyarakat Islam tertua di Nusantara, sejak dulu telah memiliki strategi pendidikan dan karakter dalam mendidik anak dengan pendekatan karya sastra dalam bentuk syair yang di sebut Do Da Idi. Mereka mendidik anak-anaknya sejak usia 0 sampai dengan 4 tahun dengan syair-syair nina bobok yang berisi pesan moral. 

Pesan-pesan yang disajikan dalam syair-syair itu pada umumnya tentang ke-esaan Allah Swt, kerasulan Nabi Muhammad Saw, kecintaan dan penghormatan kepada orang tua. Selain itu, syair-syair Do Da Idi juga berisi tentang bermacam sisi kehidupan, pekerjaan, tanggung jawab sosial kemasyarakatan, pengorbanan, keberanian, kepahlawanan dan kasih sayang.

Pendidikan karakter melalui Do Da Idi telah digunakan oleh ibu-ibu di Aceh sejak lama dan tradisi ini telah di warisi secara turun temurun dari generasi ke generasi. Setiap ibu yang memiliki anak usia 0-4 tahun akan selalu menggunakan syair Peuayoen Aneuk yang disebut Do Da Idi untuk menghibur anak-anaknya saat mengayunkan dan menidurkannya.

Pada mulanya, syair Do Da Idi itu dipahami sebagai nyanyian yang mementingkan keindahan bunyi dan kemerduan suara. Kemudian disadari bahwa dalam syair-syair itu terdapat sejumlah pesan yang sudah diperdengarkan kepada anak-anaknya. 

 Anak-anak yang masih suci seperti selembar kertas putih, di nukilkan dengan nyanyian yang berisi pesan moral dan pendidikan karakter. Dapat dipastikan tatkala mereka dewasa kelak, syair-syair itu akan terngiang kembali ke telinganya dan ada yang dapat dihafalkannya. Seterusnya, mereka akan mewarisi kepada anak-anaknya sebagai generasi penerus.

 Dalam kenyataannya, dewasa ini syair Do Da Idi hampir tidak terdengar lagi dari mulut ibu-ibu muda, baik di desa-desa maupun di kota-kota. Mereka cenderung tidak menggunakan syair untuk menghibur anak, melainkan lebih suka menggantikan nyanyian dengan music yang ada di telepon genggam. Kondisi ini disebabkan karena pengaruh globalisasi, westernisasi dan rendahnya pengetahuan ibu-ibu muda akan manfaat syair Do Da Idi itu sendiri. Bahkan, umumnya sebagian dari mereka tidak mengetahui likir dari sejumlah syair Do Da Idi yang ada sebagai khasanah budaya masyarakat Aceh.

Perlahan seiring dengan hilangnya budaya Do Da Idi dalam masyarakat, tentu akan hilang juga kearifan lokal dalam mendidik anak-anaknya. Penggunaan syair Do Da Idi sebagai salah satu role model pendidikan karakter menjadi hilang. Hal ini berarti hilangnya suatu peradaban Aceh.

Selanjutnya hasil analisis menunjukkan bahwa syair Do Da Idi memiliki dua fungsi yaitu :Sebagai media yang digunakan oleh orang tua untuk menghibur anaknya dalam ayunan.

Sebagai sarana pendidikan karakter sejak dini kepada anak-anak Aceh yang dilakukan langsung oleh kedua orang tuanya.

Adapun nilai pendidikan karakter yang didapati dalam syair Do Da Idi ini meliputi :

Keimanan dan ketauhidan

Kerasulan

Ibadah dan amalan

Takzin kepada ibu-bapak dan guru

Sosial kemasyarakatan

Tanggung jawab dan pekerjaan

Kewajiban berperang membela Negara.

        Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sudah sangat cerdas dan arif dalam mendidik anak-anak mereka sejak dalam ayunan. 

Mereka telah menerapkan pendidikan yang menyenangkan, dengan lantunan syair yang indah, sehingga mudah untuk di ingat dan di hafal oleh anak-anak saat ia telah dewasa kelak.

Adapun beberapa contoh syair Do Da Idi antara lain :

Lailahaillallaah

Kalimah thaibah beukai tamate

Meunyoe han ek takheun ngon babah

Allah-Allah teutap lam hate

Lailahaillallaah

Kalimah thaiban teutap lam hate

Taek Allah, Tatron pih Allah

Sabee teukeubah di dalam hate

Beurijang rayeuk aneuk meutuah

Tapujoe Allah, neuk ngon nabi

Beurijang rayeuk aneuk meutuah

Beu-ek tabalah Neuk, guna 

Sumber berita https://maa.acehprov.go.id/berita/kategori/putroe-phang/tradisi-syair-do-da-idi-dalam-adat-aceh-pembentukan-karakter-sejak-dini