Idang Peunowoe Linto
Senin, 18 Mei 2026 Oleh Dyna Ariana, S.PdBagikan:
Adat Istiadat
Aceh memiliki budaya yang unik dan beraneka ragam yang dipengaruhi oleh budaya-budaya Melayu dan Timur Tengah. Salah satu keunikan yang dapat dilihat dalam budaya dan adat istiadat yang terus dipertahankan adalah keunikan dalam adat perkawinan. Salah satunya adalah Idang Peuneuwo Linto, yaitu hantaran perlengkapan mempelai pria (linto baro) yang diberikan kepada mempelai wanita (dara baro).
Adat perkawinan Aceh adalah simbol penghormatan, persaudaraan, dan niat baik dari keluarga mempelai pria (linto baro) kepada keluarga mempelai wanita (dara baro). Hidang ini merupakan hantaran perlengkapan darabaro mulai dari kebutuhan pakaian, perlengkapan sholat, perlengkapan mandi, perlengkapan pakaian dalam, sandal, tas dan lain-lain. Idang ini dibawa saat prosesi Intat Linto (mengantar pengantin pria) ke rumah mempelai wanita. Pengantaran idang linto melibatkan seluruh sanak saudara, perangkat gampong dan kerabat terdekat. Jumlah idang yang di bawa tergantung dari kemampuan linto baro. Idang ini dihias sedemikian rupa dan di masukkan dalam dalong serta dibungkus dengan kain kuning dan di hias dengan kasab aceh.
Makna dari idang linto yang dibawa ke rumah darabaro adalah :
Rasa Syukur dan hormat, idang linto yang disajikan mencerminkan rasa syukur atas terlaksananya pernikahan dan bentuk penghormatan tertinggi kepada besan.
Simbol persaudaraan baru yaitu penyerahan idang menandakan terjalinnya silaturahmi dan pengikatan tali persaudaraan antara dua keluarga besar yang sebelumnya tidak terikat, kini menjadi satu.
Ketulusan dan niat baik,ini melambangkan ketulusan niat pihak linto untuk meminang dan menyayangi pihak darabaro, serta bentuk tanggung jawab dari awal.
Adat istiadat dan pemuliaan, biasanya disusun dengan rapi dan menunjukkan budaya meuhidang untuk memuliakan tamu.
Penyatuan dua pihak sering kali dibalas dengan Peuneuwoe (pemulang) dari pihak wanita, yang melambangkan hubungan timbal balik, saling memberi, dan berbagi kebahagiaan. Balasan idang linto di balas kembali oleh pihak darabaro berupa diisi kue khas aceh seperti dodol, meusekat, halua breuh, kue boi , kue karah , wajeb, dan lain-lain. Sebanyak talam yang diberikan atau boleh kurang dengan jumlah ganjil. Adat membawa-bawa baik barang ataupun kue dalam adat Aceh sangatlah kental apalagi dalam sebuah keluarga baru.
Sumber Berita :https://maa.acehprov.go.id/berita/kategori/adat-istiadat/idang-peunowoe-linto
