Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe, Shari Anita, S.Sos., M.M., menghadiri undangan Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh Tim Peneliti Universitas Malikussaleh pada hari ini, Kamis, 11 Juni 2026 bertempat di Ruang Pertemuan Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh.
FGD tersebut mengangkat tema “Gender Equality and Social Inclusion (GESI) dalam Mempromosikan Green Economy di Aceh”, yang bertujuan untuk menggali pandangan dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan terkait peran kesetaraan gender dan inklusi sosial dalam mendukung pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan di Aceh.
Kegiatan ini diikuti oleh unsur akademisi, pemerintah daerah, lembaga adat, tokoh agama, pelaku usaha, serta berbagai pihak terkait. Melalui diskusi yang berlangsung interaktif, para peserta membahas berbagai strategi untuk memperkuat partisipasi perempuan dan kelompok rentan dalam pengembangan ekonomi hijau yang berbasis potensi lokal dan kearifan adat Aceh.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekretariat MAA Kota Lhokseumawe menyampaikan bahwa nilai-nilai adat Aceh memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan, termasuk dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan perempuan. Adat sebagai pedoman hidup masyarakat dapat menjadi landasan dalam mendorong terciptanya keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat. MAA dapat memberikan dukungan dengan cara ikut mensosialisasikan program Green Ekonomi pada saat kegiatan-kegiatan MAA seperti Program Saweu Sikula, Kegiatan Pembinaan atau Sosialisasi Adat yang diselenggarakan oleh Pengurus MAA.
Melalui partisipasi dalam FGD ini, MAA Kota Lhokseumawe berharap hasil penelitian dapat menjadi masukan yang konstruktif bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang responsif gender, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan di Aceh.
